Manusia dengan Keberkahan Akal dan Penerimaan Ilmu Pengetahuan
- Feb 24, 2023
- 4 min read

Manusia merupakan ciptaan Allah Swt. (Al-Insan: 2 – 3) yang diciptakan secara istimewa diberi akal dan harus digunakan sebaik-baiknya. Manusia secara eksistensi pengakuan adanya akal ini telah dijelaskan dalam Surah al-Fushilat: 53 yang memberi petunjuk tentang makna berpikir induktif yang melibatkan penalaran dalam memperoleh kesimpulan yang bersifat umum (mayor) dan memperoleh kesimpulan individual (minor). Manusia sendiri memandang kehidupan dengan berbagai paradigma, mulai dari aliran Jabariyah atau fatalisme (predestination) yang memandang manusia sebagai robot Tuhan yang dikendalikan penuh secara mutlak dan hakiki sehingga otoritas Tuhan sangatlah luas, begitupun dengan otoritas manusia yang sangat terbatas. Kemudian, aliran Qadariyah yang memandang hidup sebagai suatu keleluasan sehingga otoritas Tuhan sangat terbatas, atau lebih dikenal dengan free will. Kedua pandangan tersebut menimbulkan sintesa bahwa manusia itu bebas dalam keterkaitan, dan terkait dalam kebebasannya. Inilah yang menjadi esensi mengenal manusia dan pengetahuan menjadi penting karena akan membuka dasar pemikiran. Manusia dengan pengetahuan pertama penggambarannya mengenai tata cara hidup yang diajarkan oleh malaikat kepada Nabi Adam dalam rangka hidup di Bumi. Namun, sebetulnya dari mana kita menerima pengetahuan? Apa kepentingannya? Apa kegunaannya? Apa implikasinya?
Pada dasarnya pengetahuan adalah interaksi untuk dapat mengenali dan mengetahui tentang suatu objek. Oleh karena itu, dalam proses-proses mendapatkan pengetahuan dapat melalui beberapa media, seperti (1) melalui filsafat, (2) mistik, (3) indera, dan (4) science. Namun, menjadi pokok utama asal-muasal segala pengetahuan berasal dari Allah Swt. secara mutlak dan tidak bertentangan, logikanya adalah bagaimana mungkin sesuatu yang berasal dari sumber yang sama, tetapi justru bertentangan.
Penerimaan pengetahuan dari mistik biasanya dianggap tidak rasional oleh masyarakat awam. Mistik secara pengertiannya jika dikaitkan dengan agama adalah pengetahuan tentang Tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indra dan rasio. Beberapa uraian pengetahuan yang berasal dari mistik, seperti (1) Metode mendapatkan pengetahuan ala filsafat Isyraqi (Iluminasi) pemikiran Imam Suhrawardi, (2) Pengetahuan menuju Tuhan dan Jalan menuju pengetahuan pemikiran Ibn Rusyd, dan (3) Sumber dan metode pengetahuan pemikiran Sayyid M. Naquib Al-Attas.
Pengetahuan filsafat Isyraqi pemikiran Imam Suhrawardi yang merupakan pendiri filsafat dan ilmu-ilmu hikmah (walid al-hukama). Metode menemukan pengetahuan ala filsafat Isyraqi karena objeknya bersifat imanen dan bersifat swa objektivitas yang melibatkan kesadaran maka cara perolehannya harus melalui tahapan-tahapan tertentu. Tahap ini diawali dengan aktivitas-aktivitas spiritual, seperti mengasingkan diri 40 hari, berhenti makan daging, berkonsentrasi untuk menerima nur ilahi, dan lainnya seperti laku asketis dan sufistik, kecuali pada konsep al ahwal (keadaan-keadaan) dan maqamat (tingkatan-tingkatan). Melalui aktivitas ini dengan kekuatan intuitif dalam dirinya, imam Suhrawardi menyebut bagian ini sebagai bagian dari cahaya Tuhan (al-bariq al-ilahi). Melalui hal ini, seseorang akan dapat menerima realitas keberadaan dan mengakui kebenaran intuisinya melalui ilham dan penyingkapan diri (musyahadah wa mukasyafah). Maka ada beberapa tahap, (1) suatu aktivitas tertentu, (2) suatu kondisi tertentu yang mendapatkan kilatan cahaya ketuhanan, dan (3) ilham. Pada tahap kedua, cahaya Tuhan memasuki dirinya dengan serangkaian “cahaya penyingkap” (al-anwar al-sanihah) yang mana “cahaya-cahaya penyingkap” tersebut sebagai pengetahuan sebenarnya “al ulum al haqiqah”. Walaupun menggunakan intuisi, terdapat tahap ketiga yang disebut al ilm al shahih atau tahap pembangunan pengetahuan yang valid, yakni perasionalisasian dimana pengalaman akan diuji dan dibuktikan dengan sistem berpikir melalui uji validitas dalam posterior analytics Aristoteles. Dengan demikian, perolehan pengetahuan dalam filsafat Isyraqi tidak hanya mengandalkan intuitif, tetapi juga kekuatan rasio. Ia bahkan menggabungkan keduanya, seperti metode intuitif dan diskursif, dalam hal ini tokoh yang patut menjadi contoh adalah Yazid Bustami (804 – 875M).
Kemudian, pengetahuan menuju Tuhan pemikiran Ibnu Rusyd memiliki dua cara dalam mencapai pengetahuan menuju Tuhan, yaitu dalil ikhtira dan dalil inayah. Dalil ikhtira adalah seluruh alam semesta yang tertata secara rapi dan teratur dengan segala kompleksitas di dalamnya, tidak mungkin muncul dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan. Jika kita telisik secara transenden terdapat ayat yang menjelaskan mengenai penciptaan alam dalam Q.S Al-Baqarah: 29 “Dialah Allah yang menjadikan segala sesuatu di Bumi untuk kalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.” Kemudian, dalil inayah adalah tata kehidupan, siang-malam, adanya tumbuhan, adanya hewan, dan segala pergerakannya ini pasti ada yang mengatur, misalnya dijelaskan dalam Q.S Ar-Rahman: 29 “Semua yang ada di langit dan di Bumi selalu meminta kepada-Nya, setiap hari Dia (memenuhi) semua kebutuhan (makhluk)Nya”. Kedua pandangan tersebut digunakan baik oleh orang awam maupun terpelajar, perbedaannya orang awam mengakui pengetahuan itu melalui inderawi sedangkan orang terpelajar mengakui pengetahuan itu melalui pembuktian.
Penerimaan ilmu pengetahuan melalui teori rasionalisme adalah aksioma (pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian) yang dipakai dalam membangun pemikiran yang diturunkan dari ide. Idea manusia memiliki kemampuan “mengetahui”, tetapi tidak menciptakannya dan tidak mempelajarinya lewat pengalaman. Tokoh pengembang rasionalisme adalah Rene Descartes adalah seorang filsuf modern dengan memberi dasar metodis baru dalam filsafat. Munculnya rasionalitas karena Descartes menyangsikan berbagai pandangan metafisis yang berlaku tentang dunia materi dan dunia nonmateri itu. Salah satu pernyataan kaum rasionalisme adalah cogito ergo sum yang artinya aku berpikir maka aku ada, tagline tersebut sangat erat kaitannya dengan antropologisme. Tolok ukur sesuatu hal menurut pandangan ini adalah hal itu rasional.
Penerimaan ilmu pengetahuan melalui indera dibawa oleh tokoh filsuf Inggris adalah Francis Bacon De Verulam yang membawa teori empirisme. Empirisme adalah pandangan empirisme yang bertumpu pada pengalaman. Secara terminologis pengertian empirisme adalah doktrin atau paham yang meyakini bahwa sumber seluruh pengetahuan harus berdasarkan pengalaman indera, sedangkan ide hanya abstraksi yang dibentuk terhadap apa yang dialami. Teori empiris terdapat dua aspek pokok yaitu, (1) yang mengetahui (subjek) dan yang diketahui (objek) di antara keduanya terdapat alam nyata seperti fakta yang dapat diungkap (2), pengujian kebenaran dari fakta didasarkan kepada pengalaman manusia, maka pernyataan ada atau tidak sesuatu haruslah memenuhi persyaratan pengujian pengamatan publik. Hal ini, kita dapat memahami bahwa ada enam ajaran empirisme di antaranya: pertama, semua ide ialah abstraksi yang dibentuk oleh pengalaman, kedua pengalaman inderawi merupakan satu-satunya sumber pengetahuan, ketiga semua yang diketahui bergantung pada data inderawi, keempat semua pengetahuan turun dan disimpulkan data inderawi kecuali kebenaran definisional matematika dan logika, kelima akal tidak dapat memberikan pengetahuan tanpa bantuan indera, dan keenam empirisme sebagai filsafat pengalaman.
Bahwasannya manusia yang memiliki pandangan-pandangan mengenai penerimaan ilmu pengetahuan itu sangatlah banyak berimplikasi pada kehidupan sehari-hari. Misalnya, penerimaan ilmu pengetahuan dari mistik menjadikan manusia lebih terkonsen pada Tuhannya, tetapi di lain sisi pun terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam penerimaan itu, apakah peristiwa itu benar-benar terjadi ataukah tidak. Kemudian, perbedaan pandangan antara rasionalisme dengan empirisme pun juga berpengaruh pada dunia ilmu pengetahuan, misalnya adanya rumus refraksi mengenai pembiasan pensil (sebagai contoh) ketika dimasukkan dalam gelas, jika secara rasional, pensil yang lurus tetaplah menjadi lurus walaupun dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air. Namun, kenyataannya, bahwa pensil yang dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air secara empiris justru bengkok. Melalui fenomena ini banyak ilmu pengetahuan lahir.
Oleh: Amirudin Nur Wahid

Comments