“Poros Langit Kepemimpinan Gus Dur”
- Apr 17, 2023
- 4 min read

Bedah Pengetahuan - Resensi Buku
Profil Buku:
Judul : Perjalanan Politik Gus Dur
Penulis : Wartawan dan Kolumnis Kompas
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit : Januari 2010
Lokasi Terbit : Jakarta
Tebal : xxiii + 288 halaman
Harga : Rp49.000
Abdurrahman Wahid atau yang juga dikenal dengan Gus Dur ini merupakan figur yang dikenali sebagai salah satu tokoh politik yang melekat di berbagai entitas komponen bangsa Indonesia. Gus Dur sebagai Presiden Keempat Republik Indonesia dengan humor politiknya yang menimbulkan misteri pun juga tak jarang menciptakan kontroversi yang membingungkan politisi. Namun di balik pembawaan figurnya yang santai tersebut terdapat perjalanan politik yang berliku. Perjalannya Gus Dur menuju kursi kepemimpinan berada pada arus persaingan politik, yang pada masanya, masih sulit untuk digambarkan konfigurasinya. Buku ini mengeksplanasi latar-latar di balik langkah politik Gus Dur yang barangkali tertutup oleh tabir politik dan sejarah yang tak pernah dibicarakan di bangku kelas. Oleh karenanya, buku ini kuat direkomendasikan untuk kalangan kaum terpelajar, baik pelajar menengah, mahasiswa, maupun tenaga pengajar, guna mengetahui seluk beluk fragmen sejarah dari dinamika arus politik bangsa yang ada dan pernah terjadi pada masa sebelum maupun dalam periode kepemimpinan Gus Dur.
Pada bab pertama buku ini berjudul “Politik Politisi versus Politik Ulama” di dalamnya mengulas beberapa hal dalam kaitan antara konfigurasi komponen bangsa dengan gerakan politiknya. Kalangan Ulama dan pengelola pesantren pada masanya menjadi salah satu poros kekuatan politik yang juga turut mendongkrak Gus Dur dalam dunia politik. Pengusungan tersebut semakin menguat tatkala bargaining position kedua calon presiden dianggap kurang sesuai dengan kehendak masyarakat luas pada masanya. Sosok Habibie dianggap oleh masyarakat – terutama pada kalangan masyarakat Islam – terlalu bergaya kebarat-baratan yang kurang bisa diterima oleh pendukungnya sebagai representasi Islam. Selain itu sejumlah kalangan pula mengkhawatirkan kondisi birokrasi Indonesia apabila sampai Megawati yang terpilih. Mengingat permasalahan belum tuntasnya kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menggerogoti BUMN dan sejumlah departemen pun turut mengurangi rasa keterwakilan rakyat dalam penyelenggaraan negara. Sehingga yang ada hanyalah ketidakpercayaan akan dapat terubahnya kondisi tersebut menjadi lebih baik dan bersih.
Dengan latar kondisi pasar politik nasional yang haus akan figure yang dirasa sesuai dengan berbagai tuntutan tersebut, kelompok politik Poros Tengah yang diwarnai dengan kelompok dan partai-partai bernafaskan Islam pun mencalonkan Gus Dur untuk Bangsa Indonesia. Gus Dur kemudian hadir, maju, menyemarakkan konstelasi politik nasional sebagai calon presiden alternatif dari Poros Tengah yang pada masa itu memang banyak didukung oleh daya pengaruh masyarakat Islam, terutama para kyai dan pengurus pesantren khususnya di Nahdlatul Ulama. Dengan terkonsentrasinya kekuatan politik masyarakat Islam ini kemudian membuahkan terpilihnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI Keempat.
“Terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden akan memberikan angin sejuk yang cukup segar bagi iklim keagamaan di Indonesia. Dengan pandangan Islamnya yang pluralisme, ia akan memberikan kesempatan yang sama bagi semua penganut agama di Indonesia untuk berkiprah bersama dalam mengembangkan kreativitas mengantarkan bangsa ini duduk sejajar dengan bangsa lain.”
Dalam pembahasan bab kedua yang mengangkat judul “Presiden Santri” ini memuat penjabaran ragam dampak dari terpilihnya Gus Dur bagi sejumlah sektor pemerintahan berikut ini namun tidak terbatas pada: membaiknya iklim keagamaan Indonesi, kinerja pemerintahan, iklim demokrasi dan ekonomi Indonesia. Dari segi iklim keagamaan, jelas nampak dari terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden keempat RI dan Amien Rais sebagai Ketua MPR secara gamblang menjadi simbol hidupnya masyarakat Islam dan kaum santri yang selama ini dimitoskan termarjinalisasi secara ekonomi dan politik. Selain itu Gus Dur menekankan pendekatan Islam neomodernisme bernuansa multicultural yang mana memang sesuai dengan karakter Bangsa Indonesia yang kaya akan keragaman budaya dan adat-istiadat. Dari segi pemerintahan dan demokrasi, Gus Dur sendiri melalui humor politiknya sudah merupakan percontohan baik bagaimana masyarakat yang hidup demokrasi seharusnya tidak mudah tersinggung. Gus Dur tidak terlalu mempedulikan ataupun memperhatikan gelar dan kehormatan apa yang disandang seseorang yang mengisi jajaran pemerintahan. Beliau lebih mementingkan kinerja, kualitas, core value yang tertanam pada jiwa dan pikiran seseorang.
“Yang dipentingkan itu kualitas, bukan sederet gelar yang ada di belakang nama,”
-Gus Dur
Pada bab ketiga berjudul “Buloggate, Dekrit dan Kembali ke Ciganjur” ini mengemukakan peristiwa gejolak politik yang timbul pada akhir periode kepresidenan Gus Dur. Dinyatakan bahwa dalam pembangunan demokrasi itu membutuhkan kesabaran. Hal ini betul saja sebab antara “pemain” dan “manajer” memiliki perspektif dan prospek yang berbeda. Dengan mengingat bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan itu mesti dilaksanakan dengan bersama-sama banyak orang, banyak pikiran, maka tidak sepemikiran adalah konsekuensi pasti yang akan dihadapi. Ketidaksesuaian terlihat sejak Gus Dur kehilangan dukungan politiknya di DPR/MPR. Namun penulis dalam hal ini mengungkapkan bahwa isu-isu yang terkesan menggiring kepada pemakzulan itu bukanlah sebab utamanya, melainkan ialah gerakan dari spektrum politik lain yang tidak senang terhadap gaya kepemimpinan Gus Dur.
Pemerintahan pada masa Gus Dur ini mengalami proses transisi yang serba sulit, penuh dengan tantangan, kendala dan hambatan, baik structural maupun kultural yang amat berat. Hal itu disebabkan pemerintahan Gus Dur yang lambat menjalankan misi transisi akibat kepemimpinan yang lemah, tidak kreatif, dan manajemen pemerintahan gaya “begitu aja kok repot,” yang ternyata tidak sinkron dengan praktek-praktek manajemen modern. Padahal, diketahui bahwa manajemen modern ini ibarat menjadi syarat wajib Indonesia agar dapat berkiprah kembali sebagai salah satu pelaku ekonomi utama di Asia.
“Gus Dur langsung memeluk K.H. Hasyim, sambil menangis Gus Dur berkata: Sampaikan salam hormat saya kepada kiai. Katakan, bahwa Abdurrahman tetap santri. Sampai kapanpun Abdurrahman tetap santri yang tidak mungkin menentang ulama.”
Buku ini merupakan buku non-fiksi yang menjelaskan rinci latar peristiwa politik yang dilalui sosok Abdurrahman Wahid (Gus Dur), baik dari masa dicalonkan, dinamika kepemimpinan, hingga pemakzulannya dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Buku ini sarat akan informasi yang disajikan berdasar alur waktu dan data dari setiap peristiwa, statement dan pandangan maupun komentar di dalamnya bersumber pada database yang valid, dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pembahasannya, kerap mengambil pelajaran dari model kepemimpinan di negara lain, yang itu akan membuat pembaca makin menikmati alur penyampaian informasi. Buku ini menyajikan data-fakta secara objektif, tidak ada kesan keberpihakan kepada suatu golongan tertentu (netral) dan disusun dengan bahasa yang padat sehingga efektif dalam mengekspresikan maksud dan informasi yang hendak disampaikan.
Peresensi: Faisal Nasirul Haq

Comments